Benarkah Maraknya Pembentukan Paguyuban di Sumsel Murni Untuk Pelestarian Budaya ?

Tak kurang dari 40 buah paguyuban suku dan etnis telah terbentuk saat ini di Sumatera Selatan. Mulai dari suku pribumi, suku pendatang maupun etnis luar. Mereka seperti berlomba menggelar kegiatan Pertemuan dan pelantikan pengurus dengan mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya.

budaya sunda

Hal seperti ini memang lumrah-lumrah saja. Tetapi jika dikaitkan dengan semakin dekatnya waktu pelaksanaan Pilkada, kegiatan paguyuban menjadi sesuatu yang patut dicermati.

“Ah itu kan sekedar upaya untuk mencari dukungan untuk Pilkada mendatang saja”, ujar Sudarso, seorang warga Palembang mengomentari maraknya pembentukan Paguyuban akhir-akhir ini.

Tetapi Gubernur Sumsel, Syahrial Oesman yang menjadi Pembina dari paguyuban-paguyuban tersebut secara tegas membantah jika kemunculan paguyuban-paguyuban bisa berdampak negatif atau sekedar upaya penggalangan massa menjelang Pilkada saja.

“Paguyuban-paguyuban tersebut dibentuk murni dalam kaitan dengan pelestarian budaya… bukan ada unsur politik”, ujarnya menegaskan.

Namun terlepas dari benar tidaknya tuduhan ada unsur politik dibalik pembentukan paguyuban, yang jelas keberadaan banyak paguyuban di Sumsel saat ini telah memberi warna tersendiri bagi suasana kehidupan bermasyarakat di provinsi kaya migas ini.

“Sekarang Sumsel memiliki kekayaan budaya yang sangat banyak dan beragam. Semua suku ada disini. Mereka memiliki ragam adat dan budaya masing-masing. Inilah kekayaan budaya sumsel saat ini yang harus kita lestarikan dan jaga”, ujar seorang Budayawan Sumsel yang sangat mendukung munculnya paguyuban-paguyuban selama ini.

Memang, dari sisi negatifnya belum tampak hal-hal yang dikhawatirkan sebagian kalangan beberapa waktu lalu. Katanya, paguyuban-paguyuban bisa menjadi pemicu timbulnya perpecahan dan konflik antar suku di Sumsel. Tidak, kenyataanya kekhawatiran tersebut tidak terbukti dan semua suku justru hidup rukun, membaur dan saling membutuhkan.

Kaitannya dengan pelestarian budaya yang diusung dari momen pembentukan paguyuban, memang patut disambut baik. Tak sedikit budaya-budaya leluhur kita yang selama ini terpendam, kini mulai tergali lagi. Alhasil, dalam setiap acara beragam kebudayaan bisa ditampilkan sehingga mempercantik dan menambah semarak suatu acara.

“Kalau dulu setiap acara paling-paling cuma Sarofal Anam atau Barongsai yang ditampilkan. Sekarang banyak macamnya”, ujar seorang warga lainnya.

Jika ini bisa terus berlangsung dan terpelihara dengan baik, maka Sumsel sebagai reflika Indonesia karena keberagaman suku dan adatnya, akan tetap terjaga dan kedamaian akan abadi di bumi Sriwijaya ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: